Sepertinya pada setiap pertemuan
matakuliah KPST, akan ada tugas rangkuman terus di blog ni. Amazing sekali,
menurut saya, hal ini dapat membuat mahasiswa dapat mengingat dan merangkum
apa-apa saja yang telah dipelajarinya pada matakuliah ini. Tapi, akan jadi
percuma jika ada yang hanya meng’copas (copy – paste) saja. Tapi menurut saya,
boleh lah sekali-sekali jika hanya buat referensi dan asal jangan sama persis.
Jika sama persis plagiat namanya. Jangan jadi plagiat ya teman, ada UUD hak
cipta lho. Hhehe... ^^
Sebenarnya pada pertemuan ini, saya kurang konsentrasi dalam menerima
materinya. Pertama karena banyak menggunakan Bahasa Inggris dan perut saya
sedang lapar, udah gitu ada yang ngajak ngobrol lagi. Haduh haduh...
Ya... mari kita mulai pembahasan pada pertemuan minggu kedua tentang Critical Thinking dan Argumen-Statement pada matakuliah
Konsep Pengembangan Sains dan Teknologi.
Yang dibahas pada pertemuan kali ini adalah tentang tugas pertama yang
melalui E-learning kampus, yaitu membahas BAB 1 pada buku Bowell Kemp - Critical Thinking
A Concise Guide_ 3rd Edition. Pada BAB ini kita diperkenalkan dengan
istilah-istilah seperti argumen, premis, statement, kesimpulan, retorik, dan
lain sebagainnya.
1. Pengertian Argumen
Argumen adalah diskusi yang melibatkan sudut pandang yang bertentangan atau demonstrasi bukti dengan menggunakan alasan logis untuk memengaruhi (wikipedia).
2. Pengertian Statemen
Statemen adalah pernyataan yang dikeluarkan oleh seseorang yang belum tentu benar keteranganya.
3. Pengertian dan Contoh Premis
ialah pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan. Merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan premis mayor dan premis minor. Subjek pada kesimpulan itu merupakan term minor. Term menengah menghubungkan term mayor dengan term minor dan tidak boleh terdapat pada kesimpulan. Perlu diketahui, term ialah suatu kata atau kelompok kata yang menempati fungsi subjek (S) atau predikat (P).
Contoh:
(1) Semua cendekiawan adalah manusia pemikir
(2) Semua ahli filsafat adalah cendekiawan
(3) Semua ahli filsafat adalah manusia pemikir.
Dalam doktrin retorika Aristoteles terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran. Retorika demonstartif memfokuskan pada epideiktik, wacana memuji atau penistaan dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan.
4. Pengertian Retorik / Retorika
Retorika (dari bahasa Yunani
ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan
secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter
pembicara, emosional atau argumen (logo), awalnya Aristoteles
mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan judul
'Grullos' atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah seni
manipulatif atau teknik persuasi
politik yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk
mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader
dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai,
keprcayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke
(1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau
tertulis, bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh
sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada
perbedaan antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah disebutkan
di atas) dan praktik kontemporer dari retorika yang termasuk analisis
atas teks tertulis dan visual.Dalam doktrin retorika Aristoteles terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran. Retorika demonstartif memfokuskan pada epideiktik, wacana memuji atau penistaan dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar